Manfaat dan Bahaya Kunyit bagi Wajah

Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat dunia telah memanfaatkan kunyit untuk merawat wajah. Tidak hanya membuat tampilan kulit lebih cerah dan halus, kandungan kunyit berupa kurkumin juga berkhasiat menyembuhkan penyakit.

Manfaat Kunyit

Kurkumin memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan sebagai penangkal serangan radikal bebas dan penyakit. Penelitian di era modern banyak yang mengakui keunggulan kunyit untuk kecantikan kulit. Berikut adalah beberapa manfaat kunyit bagi wajah

  1. Membuat Kulit Berkilau

    Kunyit mengandung antioksidan dan komponen antiinflamasi. Sifat ini dapat memberikan kilau pada wajah secara alami. Kunyit membantu regenerasi sel-sel kulit wajah. Jadi, Anda akan tampak lebih segar dan muda. Bagaimana mendapatkan manfaat ini? Caranya mudah. Buat masker dengan mencampurkan yogurt, madu dan kunyit. Aduk merata lalu oleskan pada wajah. Diamkan masker ini selama 15 menit atau sampai kering, lalu basuh wajah dengan air.

  2. Menyembuhkan Luka
    Kurkumin yang terkandung dalam kunyit dapat membantu penyembuhan luka dan mengurangi peradangan. Manfaat kunyit tersebut dapat menurunkan respons tubuh terhadap luka kulit, sehingga penyembuhan akan lebih cepat. Berdasarkan penelitian, kunyit dapat secara positif memengaruhi jaringan kulit dan kolagen. Jurnal Life Sciences merekomendasikan penggunaan kurkumin sebagai formula yang dioptimalkan pada luka kulit.

  3. Meredakan Psoriasis
    Manfaat lain dari kunyit bagi wajah adalah meredakan psoriasis dan meringankan gejalanya. Lembaga National Psoriasis Foundation di Amerika Serikat menyatakan kunyit juga bisa dikonsumsi sebagai suplemen, atau ditambahkan dalam makanan.

  4. Memudarkan Bekas Jerawat
    Jerawat kadang menimbulkan bekas luka atau bopeng yang mengganggu penampilan. Manfaat antiinflamasi dari kunyit, dapat menenangkan kulit dan mengecilkan pori-pori. Selain itu, kunyit bisa mengurangi jaringan parut yang membuat luka bekas jerawat terlihat memudar, dan lebih halus.

  5. Mengobati Kudis
    Dalam studi yang dilakukan di India, perpaduan antara kunyit dan neem (tanaman asli India), sangat efektif untuk mengobati kudis. Penyakit kudis disebabkan oleh tungau berukuran mikroskopis dan meninggalkan ruam kemerahan di kulit.

Bahaya Kunyit bagi Wajah

Selain memberikan manfaat bagi kecantikan dan kesehatan, kunyit juga memiliki dampak negatif bagi kulit. Saat menggunakan kunyit atau produk dengan kandungan kurkumin, sebaiknya Anda memperhatikan dosis, jenis produk, serta reaksi terhadap obat lainnya. Pelajari risiko penggunaan kunyit berikut ini.

  1. Memiliki Bioavailabilitas Rendah
    Artinya, metabolisme tubuh tidak bisa menyerap kunyit dalam jumlah besar. Oleh karena itu, hindari mengonsumsi kunyit berlebihan dalam satu waktu. Tunggu beberapa saat untuk melihat reaksi tubuh. Jika Anda mengonsumsi obat lain, berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui reaksi penggunaan suplemen kunyit.

  2. Menyebabkan Iritasi
    Saat dioleskan ke kulit, kunyit akan meninggalkan warna kuning. Bukan hanya itu. Jika Anda memiliki riwayat alergi, kontak langsung kunyit dengan kulit bisa menyebabkan iritasi, kemerahan, hingga pembengkakan. Oleh karena itu, sebelum menggunakan produk perawatan kulit berbahan kunyit, coba sedikit terlebih dahulu di lengan bagian dalam. Jika semua tampak normal, Anda bisa melanjutkan pemakaian tersebut.

Tertarik mencoba kunyit bagi wajah? Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan produk berbahan kunyit untuk kulit Anda.

Read More

Gaya Hidup Sehat untuk Kurangi Risiko Stroke

Kebiasaan yang Anda jalankan setiap hari ternyata bisa membantu mencegah terjadinya stroke. Sebuah penelitian menyebutkan, ada lima gaya hidup sehat yang bisa mereduksi potensi berbagai jenis stroke sampai 80 persen.

Hasil penelitian yang dipaparkan di jurnal kedokteran Circulation itu menelusuri catatan kesehatan dan gaya hidup 43.685 laki-laki serta 71.243 perempuan. Riset berlangsung pada 1986-2002, dengan usia rata-rata 54 tahun bagi responden laki-laki dan 50 tahun bagi responden perempuan saat penelitian dimulai.

Ketika riset dimulai, tidak ada satu pun peserta yang menderita penyakit kardiovaskular atau kanker. Selama penelitian berlangsung, sebanyak 1.559 peserta perempuan dan 994 peserta laki-laki terserang stroke.

5 Rekomendasi untuk Turunkan Potensi Stroke

Hal itu berkaitan dengan gaya hidup. Para peneliti pun mendapati gaya hidup berikut ini bisa menurunkan risiko stroke:

  • Tidak merokok
  • Menjaga berat badan. Indeks massa tubuh (BMI) harus dijaga di bawah 25. BMI sebesar 25-29,9 berarti terlalu berat. BMI di atas 30 menunjukkan obesitas.
  • Beraktivitas fisik tingkat menengah sampai tinggi setidaknya 30 menit setiap hari
  • Menjalani diet sehat, dengan memperbanyak asupan buah dan sayuran kaya serat, protein seperti ayam dan ikan, kacang-kacangan, serta mengurangi lemak jahat.
  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol menjadi maksimal segelas sehari bagi perempuan dan dua gelas bagi laki-laki.

Peserta perempuan yang menjalani lima ketentuan di atas mengurangi risiko semua jenis stroke sampai 79 persen. Sementara, untuk stroke iskemik, risikonya berkurang 81 persen. Stroke iskemik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Stroke iskemik menempati 87 persen dari total kasus stroke.

Bagi peserta laki-laki yang mengikuti lima gaya hidup sehat tersebut, risiko terserang stroke umum turun 69 persen, dan stroke iskemik turun 80 persen.  

Stroke Jadi Penyakit Paling Mematikan Kedua di Indonesia

Stephanie E. Chiuve, peneliti dari Harvard School of Public Health, Boston, Amerika Serikat mengatakan, gaya hidup sehat sangat bermanfaat mencegah stroke, khususnya stroke iskemik. “Lebih dari separuh stroke iskemik, 52 persen pada laki-laki dan 54 persen pada perempuan, bisa dicegah dengan menjalani pola hidup sehat,” kata dia. Sementara untuk stroke jenis lain, penurunannya adalah 47 persen pada perempuan dan 35 persen pada laki-laki.

Stroke merupakan gangguan pembuluh darah di otak. Penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan, kecacatan, bahkan kematian. Kebanyakan penderita stroke, 80 persen, ada di negara berkembang. Di Indonesia, stroke menjadi penyakit paling mematikan nomor dua setelah jantung. Penderitanya terus meningkat dari 8,3 per 1000 penduduk pada 2007 menjadi 12,1 per 1000 penduduk pada 2013. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyatakan terdapat enam juta penderita stroke di Indonesia. Jumlah itu bahkan enam kali lebih banyak dari total penduduk Brunei Darussalam. Pola hidup sehat tidak hanya berpengaruh pada potensi stroke. Penelitan Chiuve dan rekan-rekannya mendapati, orang yang menjalani lima gaya hidup sehat di atas, mengalami penurunan risiko penyakit jantung koroner sampai 80 persen, dan diabetes sampai 90 persen.

Read More